Memudahkan Sebuah Perasaan

Dulu sekitar 6 tahun yang lalu. Aku begitu memudahkan sebuah perasaan. Kupikir “Menikah itu gampanglah. Dijodohin juga enggak masalah. Cinta bisa hadir kapan aja”

Tapi sekarang semuanya berbeda. Rasa yang kusimpan 6 tahun lamanya, kini terus tumbuh. Tanpa ingin menghilang dan berhenti. Apa yang dipertahankan, dari sebuah rasa yang bertepuk sebelah tangan ?

Perlahan aku membuka hati untuk orang lain. Mencoba membiarkan ia mengambil alih semua ruang di hati. Setahun, dua tahun. Dan pada akhirnya, aku mengalah kembali. Rasaku yang dulu, ternyata tak pernah mati. Sakit sekali rasanya jatuh cinta pada teman sendiri.

Aku berpikir, tak mungkin aku terus jatuh seperti ini. Apa yang bisa diharapkan ? Usia semakin menua, untuk sosok seorang wanita. Tapi nyatanya hati juga tak bisa di paksa.

Allahu Robbi, aku terluka. Aku salah menaruh rasa. Ia yang ku panjat dalam doa telah menemukan relung rasanya. Tapi disisi lain, ia tak pernah menepikan aku sebagai teman baik seperjuangannya.

Pikiran dan hati kini tak lagi serasa. Cinta yang kumudahkan, ternyata hal yang paling berat aku rasa. Tak mungkin aku menjalani sesuatu yang bertolak dengan hatiku.

Sekarang. Kuserahkan semuanya pada Illahi Robbi, Sang pembolak balik hati. Melapangkan rasa yang salah agar tak semakin terluka. Biarlah usia berjalan sesuai alurnya.

Siapapun ia yang di ciptakan untukku, sudah pasti itu yang terbaik dari pilihan_NYA.

Kuala @nrhkikii_

Iklan

Mentari dan Senja

“Kenapa mentari ? Kenapa bukan senja ?”

Ini adalah banyak pertanyaan yang hadir dari sekelilingku. Kenapa aku lebih menyamai diriku Mentari dan bukan Senja.

Senja itu indah. Ia memberikan cahaya terang di ujung pandangan. Begitu banyak yang memuji keindahannya. Apalagi kedatangannya yang ditunggu ribuan perindu.

Sangat berbeda dengan mentari. Ia yang cahaya nya setia menerangi, tapi tak pernah di anggap sama sekali. Mentari selalu disalahkan hampir disetiap pekan. Entah karena terlalu panas atau redup yang menyelimuti.

Banyak yang tak berpikir. Bahwa Senja hadir karena Mentari. Mentari yang akan pergi menyisakan cahaya di ufuk barat dan mereka malah menamainya sebagai senja.

Aku tidak sama sekali membenci senja. Justru kehadirannya menambah sisi berpikir menjadi lebih dewasa dari biasanya. Aku yakin senja juga tak meminta pada semesta agar banyak yang menyukainya.

Ada saat dimana Mentari harus pergi dari semesta dan sisi bumi. Dimana mereka akan sadar, seberapa besar luka yang Mentari hadapi. Dan seberapa sabar Mentari melewati semua ini.

“Aku mengambil banyak makna dari Mentari dan Senja. Itulah kenapa aku menyamai diriku sebagai Mentari. ”

📝 Kuala, 5july19

Serupa Senja

Ada kalanya saat aku melihat senja. Aku merasa itu kamu.

Sekejap saja. Tak lama, kemudian pergi. Berganti gelapnya malam, ditemani indahnya gemintang.

Senja. Suatu sore yang tak begitu aku suka. Sebab senja, tak pernah memberi kepastian kapan ia akan menetap.

Senja itu kamu ❤